Versi 1
Ketika saya sedang sibuk bersiap siap masak di sore hari (maksudnya biar makan malam disajikan fresh dan hangat) tiba tiba saya mendapat telepon dari kawan yang mengundang saya di acara pengajian malam nanti. Karena rumah saya jauh dari lokasi pengajian, saya memutuskan untuk bersiap siap berangkat pada saat itu juga. Anak anak sudah mandi jadi tinggal menyiapkan perbekalan untuk bepergian saja seperti baju hangat, jas hujan, makanan dan minuman, popok, selimut dll. Ketika itu saya sedang memasak nasi menggunakan panci presto.. ketika panci berbunyi, api kompor saya kecilkan, kemudian 5 menit setelah itu kompor harus dimatikan agar nasi tidak gosong.

Kami berempat langsung bersiap siap dan bergegas keluar dari rumah mengejar angkot jurusan Cimahi Ledeng karena hari sudah sore. Alhamdulillah, ada angkot kosong. Tapi tiba tiba di tengah jalan timbul rasa ragu dalam hati saya, “tunggu dulu, apakah kompor panci presto sudah saya matikan atau belum ya????”………..

Kalau saya turun dan pulang, kemungkinan besar saya tidak dapat hadir di acara pengajian karena membutuhkan waktu pulang mematikan kompor, shalat maghrib dulu di rumah, dll jadi kurang lebih jam 18. 30 baru berangkat kalau tidak ada halangan lainnya sementara angkot terakhir berangkat jam 19.00. Lagi pula rasanya kompor itu sudah saya matikan, jadi buang buang waktu sekali kalau saya pulang ternyata di rumah kompor sudah mati… belum lagi membawa anak anak pulang pergi dari angkot rumah dan angkot memakan waktu yang lama (rumah saya terletak agak jauh dari angkot dengan tanjakan yang cukup terjal)….
Tapi betulkan sudah mati? atau belum?

Ya Tuhaaan, tolong pilihkan saya keputusan yang terbaik… Ya Guru, tolong saya berikan saya pilihan dan keyakinan karena keragu raguan itu adalah salah satu godaan syetan. demikian saya berbisik dalam angkot yang lumayan sepi. Ketika itu anak anak duduk diam dan tenang…..

Sebelum datang ketenangan dalam diri saya rupanya hati saya berbisik…. kamu cemas dengan sesuatu yang tidak dapat kamu lihat dan kamu pastikan yaitu api kompor di rumah… apakah kamu pernah cemas dengan sesuatu yang tidak dapat kamu pastikan juga yaitu kehidupan kamu di akhirat nanti?? akankah kamu selamat atau kamu masuk dalam tempat yang panasnya lebih dari berjuta juta panas api kompor yang kamu cemaskan itu?….

Ya Allah, maafkan aku, maafkan aku maafkan aku…..ampunkan aku ampunkan aku, Guruku, taubatkan aku doakan aku ampukan akuu…..

Sepanjang jalan dalam angkot aku berdoa mohon belas kasihannya karena kelalaianku yang tidak pernah mengingat kehidupan akhirat.

Versi 2


Gas di rumah habis sehingga koki rumah memasak dengan kompor minyak.. walaupun jarang sekali memasak dengan kompor minyak, ternyata hari hari berlalu juga seperti biasa, Alhamdulillah, tentunya dengan bantuan bantuan dari pembantu dan anak anak yang cukup tenang dengan perubahan ini.

Suatu hari ketika anak anak sedang bermain sendiri, saya ingin menumis sayuran di kompor minyak…. kompor itu saya letakkan di luar rumah… ketika itu angin bertiup sangat kencang sehingga tiba tiba api kompor naik dan sempat mengenai jari saya walau cuma sebentar…….

Tentu saja terasa panas…. Ya Allah jika api seperti ini sudah terasa panas, bagaimana dengan api di akhirat nanti??? aku tak akan mampu, tak akan mampu masuk ke dalamnya….

Lalu teringat kembali doa yang diajarkan guruku tentang taubat nasuha….. Tuhanku aku tidak layak masuk dalam firdausmu (kurang lebih rasanya seperti orang kampung, kotor berdebu lusuh, ingin masuk ke tempat raja yang indah dan gemerlapan) tetapi aku pula tidak sanggup menanggung siksa neraka Mu…. (sama api kompor saja kalah… apalagi api di sana…) oleh itu Ya Allah terimalah taubatku, ampunkanlah dosa dosa ku, sesunggguhnya Engkaulah Pengampun dosa dosa besar…..